Rabu, 29 Mei 2013

EKSRESI(PEMERIKSAAN URINE) - FISIOLOGI HEWAN

EKSKRESI (PEMERIKSAAN URIN)
Hari/ Tanggal: Kamis, 18 Oktober 2012

A.  DASAR TEORI
Sistem ekskresi merupakan sistem yang berperan dalam pembuangan zat-zat yang sudah tidak diperlukan (zat sisa) ataupun zat-zat yang membahayakan tubuh dalam bentuk larutan. Ekskresi terutama berkaitan dengan pengeluaran senyawa-senyawa nitrogen. Selama proses pencernaan makanan, protein dicerna menjadi asam amino dan diabsorpsi darah, kemudian dipergunakan oleh sel-sel tubuh untuk membentuk protein-protein baru. Di dalam tubuh vertebrata, asam amino yang berlebihan akan dirombak menjadi ammonia dan diekskresikan lewat ginjal sebagai senyawa – senyawa ammonium sulfat, ammonium fosfat, urea, asam urat atau trimethylamine. Semua zat sisa yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh sebagian akan dikeluarkan bersama urin (Team Pengajar: 2012).
Organ ekskretori menjamin agar komposisi cairan tubuh dapat berada dalam perbandingan yang benar. Pengaturan konsentrasi osmotis cairan tubuh dilakukan dengan mengatur konsentrasi bahan-bahan terlarut dan air. Organ ekskretori berperan pada pengeluaran senyawa buangan metabolism, misalnya hasil pemecahan senyawa yang mengandung nitrogen. Pada manusia, diperlukan pula mekanisme pembuangan senyawa eksogen (senyawa yang terkandung pada obat-obatan).
Fungsi utama organ ekskretori adalah:
                  1.     mempertahankan bahan terlarut yang sesuai bagi kebutuhannya
                  2.     mempertahankan volume tubuh (kandungan cairan)
                  3.     membuang hasil akhir metabolisme
                  4.     membuang bahan-bahan asing atau produk metabolism bahan tersebut
Pada hewan, organ ekskretori dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu organ ekskretori umum (vakuola berdenyut, nefridia, saluran Malpighi, dan netron) dan organ ekskretori khusus (kelenjar garam pada insang dan kelenjar rectum, insang, hati pada vertebrata) (Wiwi Isnaeni: 2006).
Mekanisme pembentukan urine pada lengkung Henle adalah suatu sistem dengana arah aliran yang berlawanan dan berulang. NaCl dipompa keluar (transport aktif) dari cabang lengkung yang menaik. air tidak dapat mengikuti gerakan NaCl keluar , selanjutnya NaCl bergerak ke arah dan masuk ke bagian lengkung Henle yang menaik dan dipompa keluar lagi. Hal ini akan menyebabkan terjadinya gradiien konsentrasi. Kepekatan filtrate yang masuk ke saluran pengumpul lebih rendah dibandingkan dengan filtrate yang baru masuk lengkung Henle. Karena konsentrasi bahan terlarut cairan tubuh lebih pekat daripada filtrate, maka air akan meninggalkan saluran pengumpul hingga urin menjadi pekat. Terdapat hubungan antara panjang lengkung Henle dengan konsentrasi urin yang dihasilkan, semakin panjang lengkung Henle semakin pekat urin yang dihasilkan (Darmadi Goenarso: 2005).
Metabolisme senyawa yang mengandung nitrogen terutama protein dan asam inti hanya sedikit, hal ini merupakan kelebihan asam amino. Asam amino akan diubah menjadi suatu senyawa melalui proses metabolisme menjadi glukosa yang disebut reaksi deaminasi yang akan menghasilkan amoniak (NH3).  Pada metabolisme asam amino, NH3 dapat dilepaskan dari asam amino melalui reaksi transmisi dan deaminasi. Pada reaksi transmisi gugus –NH2 yang dilepaskan diterima oleh suatu asam keto lain, sedangkan pada reaksi deaminasi gugus –NH2 dilepaskan dalam bentuk ammonia yang dikeluarkan dari dalam tubuh dalam bentuk urea dalam urin. Amonia dengan kadar yang tinggi merupakan racun bagi tubuh manusia. Pembentukan urea ini terutama berlangsung di hati,  yang merupakan senyawa yang mudah larut dalam air, bersifat netral, terdapat dalam urin yang dikeluarkan dari tubuh (Anna Poedjiadi: 2006).
Komposisi urin bervariasi tergantung jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi. Urin normal berwarna jernih transparan, warna kuning muda berasal dari zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin). Urin normal pada manusia mengandung air, urea, asam urat, amonia, keratin, asam laktat, asam fosfat, asam sulfat, dan klorida. Selain itu terdapat garam-garam, terutama garam dapur, zat-zat yang berlebihan di dalam darah, misalnya vitamin C, dan obat-obatan. Banyak sedikitnya urin sesorang yang dikeluarkan tiap harinya dipengaruhi juga oleh:
a)    zat-zat diuretik, misalnya kopi, teh, dan alkohol
b)   suhu
c)    volume larutan
d)   emosi  (http://www. innerbody.com/index.html)

B.  TUJUAN
*        Mengetahui kandungan glukosa, albumin, klorida dalam urin
*        Mengenal bau ammonia dari hasil penguraian urea dalam urin
*        Membuktikan kandungan urea dalam urin
*        Membandingkan hasil uji glukosa, albumin, klorida, dan urea pada beberapa urin orang normal dengan urin yang diberi perlakuan

C.  ALAT DAN BAHAN
Alat
Bahan
Tabung Reaksi
Sampel Urin
Pipet Tetes
Larutan Benedict
Bunsen
Asam Nitrit Pekat
Kaca Objek
Larutan AgNO3 10%

Asam Oksalat

Larutan Natrium Hipobromida

D.  LANGKAH KERJA
1)   Glukosa dalam Urin
Didihkan 5 ml benedict dalam tabung reaksi                      


Tambahkan 8 tetes urin ke dalam larutan benedict, kemudian panaskan lagi selama 1-2 menit
 

                                  

Amatilah perubahan warna (endapan) yang terjadi
Keterangan:
ü Hijau      : kadar glukosa 1%
ü Merah    : kadar glukosa 1,5%
ü Orange   : kadar glukosa 2%
ü Kuning   : kadar glukosa 5%

2)   Albumin dalan Urin
Masukkan 3 ml asam nitrit pekat ke dalam tabung reaksi
 



Miringkan tabung reaksi tersebut, Teteskan 8 tetes urin secara perlahan hingga urin turun melalui sepanjang tabung,
                       

             
Apabila urin mengandung albumin akan terlihat adanya cincin berwarna putih yang terdapat pada daerah kotak urin dan asam nitrit

3)   Amonia dalam Urin
Masukkan 1 ml urin ke dalam tabung reaksi
 



              Panaskan dalam Bunsen
 A.  PEMBAHASAN
Glukosa merupakan komposisi utama urin primer senilai 1 gram yang nantinya akan direabsorpsi bersama zat-zat lain antara lain air, asam amino, ion-ion Na+, K+, Ca2+, Cl-, HCO3-, HbO42-, dan sebagian urea. Glukosa dan asam amino akan diabsorpsi secara transport aktif di tubulus proksimal. Kelebihan glukosa dalam urin akan menyebabkan penyakit diabetes melitus yang mempengaruhi kerja hormon insulin pada tubuh. Kadar glukosa urin dan darah penderita ini sangat tinggi yang menyebabkan sering buang air kecil, cepat haus, dan lapar. Selain itu, terdapatnya glukosa dalam urin mengindikasikan adanya kerusakan pada tabung ginjal yang disebut penyakit glikosuria.
Albumin merupakan senyawa protein yang penting terdapat dalam darah, mempunyai sifat larut dalam air dan larutan garam encer. Komposisi protein dalam urin primer senilai 0 gram. Apabila ditemukan albumin pada urin, hal tersebut mengindikasikan adanya kerusakan pada membran kapsul endothelium pada ginjal yang dapat disebabkan oleh iritasi sel-sel ginjal karena masuknya substansi seperti racun bakteri, eter, atau logam berat.
Amonia merupakan hasil deaminasi yang terjadi di dalam hati yang bersifat sangat beracun apabila dalam kadar yang tinggi di dalam tubuh. Oleh karena itu, harus segera diubah dengan cara memakainya dalam aminasi keto, aminasi asam glutamat, serta pembentukan urea. Amonia terdapat dalam urin dengan kadar rendah yang memberikan bau pada urin. Urin normal pada manusia mengandung air, urea, asam urat, amonia, kreatin, asam laktat, asam fofat, asam sulfat, dan klorida.
Pada hasil urin yang diamati terdapat beberapa sampel antara lain:
1)   Urin anak SD, kadar glukosanya 1% (hijau), tidak ditemukan cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonia dalam urinnya sedikit (+). Dengan demikian, hasil urin pada sampel ini termasuk urin normal karena tidak ditemukan adanya indikasi.
2)   Urin perokok aktif, kadar glukosanya 1% (hijau), tidak ditemukan cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++). Hal ini disebabkan oleh zat-zat diuretik yang terdapat dalam kandungan rokok yang menghambat reabsorpsi ion Na+ sehingga ADH berkurang seperti halnya peminum kopi. Pada sampel ini termasuk urin normal, hanya saja terdapat indikasi dari zat-zat diuretik yang mempengaruhi produksi urin dan apabila amonia dalam kadar berlebih akan menjadi racun bagi tubuh.
3)   Urin antibiotik, kadar glukosanya 5% (kuning), terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++). Pada sampel ini telihat adanya indikasi kerusakan pada tabung ginjal dengan ditemukannya kadar glukosa yang tinggi, kerusakan pada membran kapsul endotelium dengan ditemukannya cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi disebabkan zat-zat diuretik yang dikonsumsinya  yang menghambat reabsorpsi ion Na+ sehingga akibatnya konsentrasi ADH berkurang dan volume urin meningkat. Hal tersebut menimbulkan kadar amonia yang sangat menyengat pada urin dan akan menjadi racun bagi tubuh jika dalam kadar yang berlebih.
4)   Urin kakek peminum kopi, kadar glukosanya1% (hijau), terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya rendah (+). Pada sampel ini terdapat indikasi adanya kerusakan pada membran kapsul endotelium pada ginjal dengan ditemukannya cincin berwarna putih pada uji albumin.
5)   Urin diabetes, kadar glukosanya 5% (kuning), terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya rendah (+). Pada sampel ini jelas penderita diabetes memiliki kadar glukosa yang tinggi yang dapat mempengaruhi kerja hormon insulin pada tubuh, serta adanya indikasi kerusakan pada membran kapsul endotelium pada ginjal dengan ditemukannya cincin berwarna putih pada uji albumin.
6)   Urin obesitas, kadar glukosa 1% (hijau), terdapat cincin berwarna putih pada urin, dan kadar amonianya sedang (++). Pada sampel ini terlihat indikasi adanya kerusakan pada membran kapsul endoteium pada ginjal dengan ditemukannya cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya pun sedang yang menimbulkan bau yang agak menyengat.
7)   Urin vegetarian, kadar glukosa 1%, terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++). Pada sampel ini terlihat adanya indikasi kerusakan pada membran kapsul endotelium pada ginjal dengan ditemukannya cincin berwarna putih pada uji albumin, serta adanya kadar amonia yang tinggi dan menimbulkan bau yang sangat menyengat sehingga dapat mengakibatkan racun bagi tubuh jika dalam kadar yang berlebih.
8)   Urin nenek kurang lebih 70 tahun, kadar glukosa 1%, terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++). Pada sampel ini terlihat adanya indikasi kerusakan pada membran kapsul endotelium pada ginjal dengan ditemukannya cincin berwarna putih pada uji albumin, serta adanya kadar amonia yang tinggi dan menimbulkan bau yang sangat menyengat sehingga dapat mengakibatkan racun bagi tubuh jika dalam kadar yang berlebih.

B.  PERTANYAAN DAN JAWABAN
1.    Bandingkan hasil pengamatan pada urin orang normal dengan urin yang diberi perlakuan, jelaskan mengapa demikian (manfaatkan data profil pemilik urin yang diuji) !
2.    Bagaimana siklus glukosa dalam tubuh, jelaskan siklus tersebut!
3.    Bagaimana kadar glukosa dalam darah setelah beberapa saat kita makan? Bagaimana hubungan darah dengan kadar glukosa optimum darah?
4.    Bagaimana hubungan antara kadar albumin yang tinggi dalam urin dengan kondisi kesehatan yang bersangkutan?
5.    Klorida yang terkandung dalam urin berasal dari apa? jelaskan !
6.    Apakah klorida selalu terdapat dalam urin? jelaskan !
7.    Berasal dari apa ammonia yang terdapat dalam urin? jelaskan !
8.    Jelaskan bagaimana terbentuknya urea dalam tubuh !

                                                            Jawaban
                  1.     Urin normal pada manusia mengandung air, urea, asam urat, amonia, kreatin, asam laktat, asam fofat, asam sulfat, dan klorida. Sedangkan pada urin yang mendapat perlakuan terdapat dua macam jenis urin, yaitu:
§    Urin normal terdapat pada sampel urin anak SD dengan hasil kadar glukosanya 1% (hijau), tidak ditemukan cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonia dalam urinnya sedikit (+).
§    Urin yang terdapat kelainan/ tidak normal terdapat pada sampel:
*        Urin perokok aktif, kadar glukosanya 1% (hijau), tidak ditemukan cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++).
*        Urin antibiotik, kadar glukosanya 5% (kuning), terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++).
*        Urin kakek peminum kopi, kadar glukosanya1% (hijau), terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya rendah (+).
*        Urin diabetes, kadar glukosanya 5% (kuning), terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya rendah (+).
*        Urin obesitas, kadar glukosa 1% (hijau), terdapat cincin berwarna putih pada urin, dan kadar amonianya sedang (++).
*        Urin vegetarian, kadar glukosa 1%, terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++).
*        Urin nenek kurang lebih 70 tahun, kadar glukosa 1%, terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++).
                  2.     Glukosa berasal dari pemecahan amilum dengan maltosa. Glukosa masuk ke dalam tubuh melalui beberapa tahap, yaitu glikolisis menghasilkan 2 asam piruvat, kemudian masuk ke dekarbosilasi oksidatif menghasilkan 2 Asetil Co A, dan terakhir masuk siklus krebs dan transpor elektron untuk menghasilkan energi berupa ATP. Dengan total ATP, glikolisis menghasilkan 8 ATP, dekarboksilasi oksidatif menghasilkan 6 ATP, dan siklus krebs menghasilkan 24 ATP sehingga totalnya menjadi 38 ATP.
                  3.     Kadar glukosa dalam darah akan meningkat, disebabkan saat kita makan makanan yang mengandung karbohidrat, karbohidrat akan diubah jadi glukosa dan menghasilkan ATP.. Glukosa ini akan dibawa oleh darah atau dapat disimpan dalam bentuk glikogen otot dan hati jika kadar gula dalam darahnya berlebih.
                  4.     Albumin merupakan molekul yang mempunyai berat molekul yang besar. Apabila dalam urin seseorang terdapat albumin, maka hal tersebut menunjukkan indikasi adanya kerusakan pada membran kapsul endhotellium. Selain itu, hal tersebut dapat disebabkan oleh iritasi sel ginjal dikarenakan masuknya substansi seperti bakteri, eter, atau logam berat. Dan orang tersebut terindikasi penyakit albuminaria.
                  5.     Chlorida yang terdapat dalam urine berasal dari makanan yang mengandung garam (NaCl).
                  6.     Ya, karena hampir semua makanan yang dimakan mengandung garam (NaCl).
                  7.     Amonia adalah hasil deaminasi asam amino yang terjadi terutama di dalam hati dan ginjal.
                  8.     Urea dalam tubuh terbentuk sebagai hasil sampingan metabolisme protein. Urea berasal dari bahan organik seperti asam amino dan purin yang proses pembentukannya terjadi di hati. Urea sangat larut dalam air dan sifat racunnya lebih kecil dari amonia. Terdapat 3 macam asam amino yang berperan dalam pembentukan urea, yaitu Ornitin, Sitrulin, dan Arginin.

C.  KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, terdapat dua macam jenis urin yaitu:
                       1.     Urin normal terdapat pada sampel urin anak SD dengan hasil kadar glukosanya 1% (hijau), tidak ditemukan cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonia dalam urinnya sedikit (+).
                       2.     Urin yang terdapat kelainan/ tidak normal terdapat pada sampel:
*        Urin perokok aktif, kadar glukosanya 1% (hijau), tidak ditemukan cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++).
*        Urin antibiotik, kadar glukosanya 5% (kuning), terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++).
*        Urin kakek peminum kopi, kadar glukosanya1% (hijau), terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya rendah (+).
*        Urin diabetes, kadar glukosanya 5% (kuning), terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya rendah (+).
*        Urin obesitas, kadar glukosa 1% (hijau), terdapat cincin berwarna putih pada urin, dan kadar amonianya sedang (++).
*        Urin vegetarian, kadar glukosa 1%, terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++).
*        Urin nenek kurang lebih 70 tahun, kadar glukosa 1%, terdapat cincin berwarna putih pada uji albumin, dan kadar amonianya tinggi (+++).

D.  DAFTAR PUSTAKA
Goenarso, Darmadi dan Suripto. 2005. Fisiologi Hewan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yoyakarta: Kanisius.
Poedjiadi, Anna dan F. M. Titin Supriyantini. 2005. Dasar- dasar Biokimia. Jakarta: UI-Press.
Team Pengajar. 2012. Modul Praktikum Fisiologi Hewan. Bandung: UIN. Sunan Gunung Djati.
http://www.innerbody.com/index.html


              Ciumlah bagaimana baunya

1 komentar: